<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Geminishe&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://geminishe.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://geminishe.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 03 Jan 2012 03:35:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='geminishe.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/38ad3506d249f7e4e69f74817d5989c2?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Geminishe&#039;s Blog</title>
		<link>http://geminishe.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://geminishe.wordpress.com/osd.xml" title="Geminishe&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://geminishe.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ternyata Allah Sandaran Hati Itu</title>
		<link>http://geminishe.wordpress.com/2011/09/27/ternyata-allah-sandaran-hati-itu/</link>
		<comments>http://geminishe.wordpress.com/2011/09/27/ternyata-allah-sandaran-hati-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Sep 2011 04:33:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geminishe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review Lagu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geminishe.wordpress.com/?p=187</guid>
		<description><![CDATA[Agak merinding tadi pagi, air mata tiba-tiba berlinang. Bukan sedih, tapi haru. Lagu favorit yang setiap hari didengerin, tiba-tiba terasa begitu berbeda. Agak aneh, lebih bernyawa. Yup. Lagu itu adalah Sandaran Hati-nya Letto. Lagu yang telah akrab ditelinga sejak lama, karena juga sebagai soundtrack sinetron beberapa tahun silam, kini menjelma menjadi sesuatu yang menyentuh hati, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geminishe.wordpress.com&amp;blog=11049120&amp;post=187&amp;subd=geminishe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Agak merinding tadi pagi, air mata tiba-tiba berlinang. Bukan sedih, tapi haru. Lagu favorit yang setiap hari didengerin, tiba-tiba terasa begitu berbeda. Agak aneh, lebih bernyawa. Yup. Lagu itu adalah Sandaran Hati-nya Letto. Lagu yang telah akrab ditelinga sejak lama, karena juga sebagai soundtrack sinetron beberapa tahun silam, kini menjelma menjadi sesuatu yang menyentuh hati, lebih dalam. Kalau sebelumnya lebih menikmati alunan musik, vokal yang syahdu, untaian lirik yang “mengena”, dan makna kata yang secara gamblang dipahami, pagi tadi lebih dari itu. Makna yang lebih dalam, lebih dalam,  “tertangkap”. Kemasan “kumplit”. Sebuah packaging yang “merajai hati”.</p>
<p>Jauh sebelum berjabatan erat dengan paseduluran maiyah Cak Nun, yang mana band Letto termasuk di dalamnya, saya sudah jatuh hati pada lagu-lagu mereka. Lebih dulu kenal karya mereka. Sebut saja lagu Ruang Rindu, Sebelum Cahaya, Sebenarnya Cinta, Sampai Nanti-sampai mati, dan Lubang di hati. Lagu-lagu Letto punya tempat sendiri di hati. Betapa tidak, setiap kali mendengarkan lagu-lagu mereka, hati saya dengan sendirinya bekerja pada level sensitivitas yang lebih dalam. Peka yang terpancing. Suguhan lirik-liriknya ketika didengarkan selalu matching dengan suasana hati, merasa terwakili. Maklum, lagu-lagu ini hadir dan menemani masa-masa “galau” saya. haha..</p>
<p>Oke, ngga usah panjang lebar, langsung meluncuuurrr ke lagu tersebuttt…</p>
<p>Sandaran Hati.</p>
<p>By: Letto</p>
<p>Yakinkah ku berdiri, di hampa tanpa tepi</p>
<p>bolehkah aku, mendengarmu</p>
<p>Ketika kegamangan menghampiri diri, seolah hidup hanyalah hampa yang tak berkesudahan. Dalam situasi seperti itu, petunjukNYA-lah yang paling dibutuhkan. Membisikkan Nurani.</p>
<p>Terkubur dalam emosi, tak bisa bersembunyi</p>
<p>Aku dan nafasku, merindukanmu</p>
<p>Terpuruk ku di sini, teraniaya sepi</p>
<p>dan ku tahu pasti, KAU menemani</p>
<p>Dalam hidupku</p>
<p>kesendirianku</p>
<p>Dalam kegamangan, kesendirian, sepi melingkupi hati, emosi “menindih” kesadaran diri, sesungguhnya kita sedang merindukanNYA. Lalu kita tersadar, dalam situasi apapun, cuma dia-lah yang paling dekat, yang akan menemani.</p>
<p>Teringat ku teringat</p>
<p>Pada janjiMU ku terikat</p>
<p>Hanya sekejap ku berdiri</p>
<p>Kulakukan sepenuh hati</p>
<p>Ketika meyakini agama yang kita anut, Tuhan yang kita sembah, dan meyakini kerajaanNYA, kita terikat untuk tidak akan berpaling dariNYA. Dalam islam, menghadap Allah melalui Sholat akan dilakukan dengan penuh kekhusuk’an. kita menyadari sepenuh hati posisi diri, bahwa Allah adalah pihak pertama dalam hidup kita.</p>
<p>Peduli ku peduli</p>
<p>Siang dan malam yang berganti</p>
<p>Sedihku ini tak ada arti</p>
<p>Jika kaulah sandaran hati</p>
<p>kaulah sandaran hati</p>
<p>Melalui kesadaran posisi diri sebagai makhluk ciptaanNYA, susah dan senang yang datang silih berganti hanyalah caraNYA bermesraan dengan kita. Kesedihan yang menghampiri, semoga takkan sampai menghilangkan kejernihan jiwa kita, asal KAUlah sandaran hati, ”tempat mengaduku”.</p>
<p>Inikah yang kau mau</p>
<p>Benarkah ini jalanmu</p>
<p>Hanyalah engkau yang ku tuju</p>
<p>Dalam kegamangan, dalam ketidak tahuan, kita akan bertanya-tanya, bimbang. kepadaNYA kah kita menuju? atau bukan? kalau bukan, kembalikanlah kejalanMU. Kita sedang memohon petunjukNYA. Seperti bunyi ayat ke-6 surat Al fatehah, “tunjukkannlah kami ke jalan yang lurus”. </p>
<p>Pegang erat tanganku</p>
<p>Bimbing langkah kakiku</p>
<p>Aku hilang arah</p>
<p>Tanpa hadirmu</p>
<p>Dalam gelapnya, malam hariku</p>
<p>Kita berlindung dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah dari gelapnya malam (ketidak tahuan akan misteri hidup). Hidup sejatinya adalah gelap malam, penuh misteri, ketidak tahuan. Oleh karena itu, CahayaNYA lah sebagai penolong.</p>
<p>Dan pagi tadi aku tersadar, ternyata ALLAH Sandaran Hati itu.**</p>
<p>Ega</p>
<p>Veteran, 26 Juli 2011</p>
<br />Filed under: <a href='http://geminishe.wordpress.com/category/1/review-lagu/'>Review Lagu</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geminishe.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geminishe.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geminishe.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geminishe.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geminishe.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geminishe.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geminishe.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geminishe.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geminishe.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geminishe.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geminishe.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geminishe.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geminishe.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geminishe.wordpress.com/187/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geminishe.wordpress.com&amp;blog=11049120&amp;post=187&amp;subd=geminishe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geminishe.wordpress.com/2011/09/27/ternyata-allah-sandaran-hati-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6dc414cad7323dc06f46c28bf0611e5c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">geminishe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peringatan Bagi Pemimpin</title>
		<link>http://geminishe.wordpress.com/2011/07/25/peringatan-bagi-pemimpin/</link>
		<comments>http://geminishe.wordpress.com/2011/07/25/peringatan-bagi-pemimpin/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jul 2011 09:28:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geminishe</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel favorit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geminishe.wordpress.com/?p=183</guid>
		<description><![CDATA[Makin hari kegalauan itu tumbuh makin pesat, tetapi berhentilah mengatakan bangsa ini bobrok. Hentikan tudingan bahwa bangsa ini tenggelam. Tidak! Bangsa ini sedang bangkit dan akan makin tinggi berdirinya. Lihatlah rakyat di sana-sini, bangun sebelum pagi, penuhi pasar rakyat, padati jalan dan kelas, menyongsong kehidupan. Dengan sinar lampu apa adanya mereka coba sinari masa depan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geminishe.wordpress.com&amp;blog=11049120&amp;post=183&amp;subd=geminishe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Makin hari kegalauan itu tumbuh makin pesat, tetapi berhentilah mengatakan bangsa ini bobrok. Hentikan tudingan bahwa bangsa ini tenggelam. Tidak! Bangsa ini sedang bangkit dan akan makin tinggi berdirinya.</p>
<p>Lihatlah rakyat di sana-sini, bangun sebelum pagi, penuhi pasar rakyat, padati jalan dan kelas, menyongsong kehidupan. Dengan sinar lampu apa adanya mereka coba sinari masa depan sebisanya. Petani, guru, nelayan, pedagang, atau tentara di tepian republik jalani hidup berat penuh tanggung jawab. Di tengah kepulan polusi pekat, rakyat kota menyelempit mencari masa depan. Mereka rebut peluang, jalani segala kesulitan tanpa pidato keprihatinan. Rakyat yang tegar dan tangguh. Denyut geraknya membanggakan.</p>
<p>Kegalauan republik ini bukan bersumber pada rakyat, melainkan pada pengurus negara yang seakan berjalan tanpa target. Deretan agenda penting dan urgen jadi wacana, tetapi tidak kunjung jadi realitas.</p>
<p>Pengurus republik sukses membangun kekesalan kolektif dan menanam bibit pesimisme. Pimpinan kini menuai kekecewaan. Harapan, kepercayaan, pengertian, toleransi, kesabaran, dan permakluman rakyat kepada pemimpin dikuras terus. Apakah dikira stok permakluman itu tanpa batas?</p>
<p>Dengan hormat saya sampaikan: stok itu ada batasnya dan sudah menipis. Semua ingin lihat hasil. Tak mau lagi dengar keluh kesah, tak hendak dengar kata prihatin keluar dari pemimpin. Republik ini perlu pemimpin yang hadir untuk menggelorakan percaya diri, bukan menularkan keprihatinan. Pemimpin tak boleh kirim ratapan, pemimpin harus kirim harapan.</p>
<p>Sebatas pidato dan wacana</p>
<p>Hari ini Indonesia memasuki era demokrasi etape ketiga. Kepresidenan periode kedua. Tidak pernah ada dalam sejarah republik ini seorang anak bangsa dipilih jadi pemimpin dengan suara sebanyak saat Presiden Yudhoyono di tahun 2009. Semua persyaratan untuk melakukan dan menuntaskan langkah-langkah besar ada di sana. Tapi mana langkah besar itu: infrastruktur ekonomi? Kepastian hukum? Integritas di sekolah? Tegas kepada pengemplang pajak? Pemangkasan benalu APBN? Konsistensi kebijakan? Reformasi birokrasi? Jaminan kebinekaan bangsa? Perlindungan warga bangsa?</p>
<p>Harapan yang tinggi untuk membereskan agenda penting baru sebatas pidato dan wacana. Republik perlu realitas. Pemerintah memang punya capaian, tetapi jika ada keberanian untuk menggelontorkan terobosan-terobosan besar di sektor penting, maka capaian itu akan melonjak. Kekecewaan tumbuh bukan semata karena pemerintah tak membawa hasil, melainkan karena terlalu banyak peluang terobosan dan perubahan yang disia-siakan. Sebutlah soal energi atau infrastruktur sistem logistik (jalan, pelabuhan, bandara, dan lain-lain), terobosan di sini bisa membuat ekonomi melejit. Atau terobosan besar dalam penegakan hukum. Perusak kebinekaan didiamkan, pengemplang pajak tak dijerat. Hukum tegak kokoh tanpa kompromi bagi rakyat kecil, tapi hukum loyo lunglai di depan rakyat besar.</p>
<p>Ini semua dampak absennya keberanian menerobos. Semua serba alakadarnya. Amunisi politik yang dahsyat itu tak digunakan. Republik ini butuh pemimpin yang mau turun ke lapangan, pemimpin kerja dan bukan pemimpin upacara. Rakyat tidak perlu pengumuman hasil rapat, tapi ingin lihat implementasinya.</p>
<p>Lihat sejarah kita, gamblang sekali. Republik ini didirikan oleh orang-orang yang berintegritas. Integritas itu membuat mereka jadi pemberani dan tak gentar hadapi apa pun. Bukan pencitraan, tapi integritas dan keseharian yang apa adanya membuat mereka memesona. Mereka jadi cerita teladan di seantero negeri.</p>
<p>Kini republik membutuhkan pemimpin yang berani tegakkan integritas, berani perangi ”jual-beli” kebijakan dan jabatan, pemimpin yang mau bertindak tegas melihat APBN untuk rakyat ”dijarah” oleh mereka yang punya akses. Ya, pemimpin yang bernyali menebas penyeleweng tanpa pandang posisi atau partai, dan bukan pemimpin yang serba mendiamkan seakan tidak pernah terjadi apa-apa.</p>
<p>Republik ini perlu pemimpin yang mendorong yang macet, membongkar yang buntu, dan memangkas berbenalu. Pemimpin yang tanggap memutuskan, cepat bertindak, dan tidak toleran pada keterlambatan. Pemimpin yang siap untuk ”lecet-lecet” melawan status quo yang merugikan rakyat, berani bertarung untuk melunasi tiap janjinya. Republik ini perlu pemimpin yang memesona bukan saja saat dilihat dari jauh, tetapi pemimpin yang justru lebih memesona dari dekat dan saat kerja bersama.</p>
<p>Bukan pemimpin yang selalu enggan memutuskan dan suka melimpahkan kesalahan. Bukan pemimpin yang diam saat rakyat didera, lembek saat republik dihardik negara tetangga, tapi lantang dan keras justru saat diri pribadi atau keluarganya tersentuh. Pemimpin yang tak gentar dikatakan mengintervensi karena mengintervensi adalah bagian dari tugas pemimpin dan pembiaran tidak boleh masuk dalam daftar tugas seorang pemimpin.</p>
<p>Jika Presiden Yudhoyono tidak segera mengubah cara menjalankan pemerintahan, maka saya harus mengingatkan bahwa bangsa Indonesia bisa memasuki persimpangan jalan yang berbahaya.</p>
<p>Jalan pertama adalah meneruskan kepemimpinan sampai di 2014 agar proses demokrasi berjalan normal tapi rakyat mencicipi hasil yang alakadarnya, deretan peluang kemajuan hilang tanpa bekas. Keterlambatan dan pembiaran jadi ciri beberapa tahun ke depan. Bahkan lunglainya penegakan hukum adalah resep mujarab menuju negara kacau.</p>
<p>Jalan kedua mulai menyeruak. Jalan berbahaya tapi suara ini mulai berkembang sebagai respons atas kelambatan dan pembiaran sistemik ini: berhenti di tengah jalan dan berikan kepada orang lain untuk memimpin. Suara macam ini bisa merusak pranata siklus demokrasi yang dibangun dengan sangat susah payah. Suara ini tumbuh karena keyakinan bahwa lewat jalan terjal ini bisa terjadi pembongkaran atas pembiaran dan kelambanan; agar rakyat tak dirugikan terus-menerus.</p>
<p>Tak optimal</p>
<p>Semua tahu sistem presidensial menjamin presiden bisa bekerja sebagai eksekutor pemerintahan dan melindunginya agar tak dapat diberhentikan oleh alasan politis. Hari ini yang dihadapi Indonesia situasi sebaliknya. Periode dijamin aman oleh konstitusi, tetapi presiden tak optimal jalankan otoritasnya. Keterlambatan berjejer dan pembiaran berderet. Periode fixed lima tahun itu bukan mengamankan agar kerja cepat, kini malah jadi penyandera bangsa dari gerak kemajuan cepat.</p>
<p>Memang presiden bukan dewa atau superman. Tidak pantas semua masalah ditumpahkan ke pundak pemimpin. Akan tetapi, presiden bisa menentukan suasana republik. Pemimpin adalah dirigen yang menghadirkan energi, nuansa, dan aurora di republik ini. Pemimpin bisa fokus menguraikan masalah strategis dan urgen bagi percepatan pelunasan janji-janjinya.</p>
<p>Presiden Yudhoyono harus sadar bahwa caranya menjalankan pemerintahan itu memiliki efek tular. Kelugasan, ketegasan, keberanian, kecepatan, keterbukaan, kewajaran, kemauan buat terobosan, dan perlindungan kepada anak buah bahkan kesederhanaan protokoler itu semua menular. Tapi kebimbangan, kehati-hatian berlebih, kelambatan, ketertutupan, formalitas kaku, pembiaran masalah, orientasi kepada citra dan ketaatan buta pada prosedur itu juga menular. Menular jauh lebih cepat dan sangat sistemik.</p>
<p>Rakyat republik ini sudah kerja keras. Lihat di segala penjuru Indonesia. Mulai dari kampung kumuh-sumuk tak jauh dari istana, di puncak-puncak pegunungan dingin, di tepian pantai sebentangan khatulistiwa: rakyat republik ini serba kerja keras. Mereka mau maju, mereka mau hadirkan kehidupan yang lebih baik bagi anak cucunya. Dan, yang pasti mereka tak biasa tanya siapa yang jadi pemimpin. Buat rakyat banyak tak terlalu penting ”siapa”-nya, yang penting lunasi semua janjinya.</p>
<p>Ini adalah sebuah peringatan apa adanya, semata-mata agar Indonesia tidak menemui persimpangan jalan itu. Ingat, rakyat negeri ini sudah bekerja keras dan ”berlari” cepat. Pengurus negara harus memilih mengimbangi kecepatan rakyat atau ditinggalkan rakyat.</p>
<p>Anies Baswedan Rektor Universitas Paramadina</p>
<p>http://nasional.kompas.com/read/2011/07/25/03064679/peringatan-bagi-pemimpin</p>
<br />Filed under: <a href='http://geminishe.wordpress.com/category/artikel-favorit/'>artikel favorit</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geminishe.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geminishe.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geminishe.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geminishe.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geminishe.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geminishe.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geminishe.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geminishe.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geminishe.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geminishe.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geminishe.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geminishe.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geminishe.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geminishe.wordpress.com/183/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geminishe.wordpress.com&amp;blog=11049120&amp;post=183&amp;subd=geminishe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geminishe.wordpress.com/2011/07/25/peringatan-bagi-pemimpin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6dc414cad7323dc06f46c28bf0611e5c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">geminishe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Martabat Bangsa</title>
		<link>http://geminishe.wordpress.com/2011/07/01/martabat-bangsa/</link>
		<comments>http://geminishe.wordpress.com/2011/07/01/martabat-bangsa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jul 2011 07:15:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geminishe</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel favorit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geminishe.wordpress.com/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[oleh: Budi Darma Tengoklah dua peristiwa ini. Pertama, pengalaman Azrul Ananda ketika akan terbang dari Jakarta ke Surabaya. Kedua, ketika Michael Junarko akan memotret di sebuah kafe di Jakarta. Azrul Ananda adalah tokoh muda yang ingin merevitalisasi kehidupan bola basket dan Michael Junarko adalah penulis surat pembaca Kompas, 19 Juni 2011. Pesawat Jakarta-Surabaya terlambat lama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geminishe.wordpress.com&amp;blog=11049120&amp;post=179&amp;subd=geminishe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh: Budi Darma</p>
<p>Tengoklah dua peristiwa ini. Pertama, pengalaman Azrul Ananda ketika akan terbang dari Jakarta ke Surabaya. Kedua, ketika Michael Junarko akan memotret di sebuah kafe di Jakarta.<br />
Azrul Ananda adalah tokoh muda yang ingin merevitalisasi kehidupan bola basket dan Michael Junarko adalah penulis surat pembaca Kompas, 19 Juni 2011. Pesawat Jakarta-Surabaya terlambat lama karena pilotnya ngambek menghadapi sistem kerja yang tidak adil.<br />
Kopilot bule yang tugasnya membantu pilot ini ternyata dibayar tiga kali lebih tinggi. Michael Junarko, sementara itu, melihat turis-turis asing bebas memotret, tetapi ketika akan memotret, dia kena marah oleh kaki tangan pemilik kafe. Orang asing boleh saja bebas memotret, tetapi orang Indonesia yang akan memotret harus memohon izin terlebih dahulu dan membayar.</p>
<p>Minke<br />
Peristiwa lain yang intinya sama sudah sering kita dengar. Kesimpulannya, sikap mental kita dahulu ketika masih dijajah tak jauh berbeda dengan sikap kita sekarang kendati kita sudah lama merdeka. Pada zaman penjajahan dulu, tempat-tempat tertentu dipasangi tanda “anjing dan pribumi dilarang masuk”.<br />
Lalu, tengoklah novel Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia. Nama tokoh sentral Minke sebetulnya bukanlah nama sebenarnya. Nama ini pelesetan dari monkey alias kera dan intelektual pribumi pada waktu itu—dalam anggapan orang Belanda—tidak lain hanyalah kera.<br />
Kemerdekaan politik ternyata tak memerdekakan mental yang lebih suka dijajah. Gejala mental lebih suka dijajah ini terjadi di mana-mana, di bekas negara-negara jajahan. Seorang psikiater kulit hitam, Frantz Fanon namanya, pernah menulis buku Black Skin, White Masks.<br />
Gagasan untuk menulis ini dipicu oleh pengamatannya terhadap bangsa bekas jajahan di Afrika dan juga pengalaman estetikanya dalam membaca novel Things Fall Apart dan No Longer at Ease karya pengarang Afrika, Chinua Achebe. Things fall Apart dan No Longer at Ease menggambarkan masa-masa kritis ketika orang Inggris mulai menanamkan kekuasaannya di Afrika, sewaktu seorang pemimpin berwibawa bernama Okonkwo ditinggalkan oleh kaumnya sendiri karena kaumnya lebih suka memihak Inggris.<br />
Anak turun Okonkwo berlagak sebagai orang kulit putih, disekolahkan ke Inggris, lalu pulang menjadi orang penting di negerinya sendiri dan akhirnya—seperti para pemimpin kita—terlibat dalam korupsi.  Kulit mereka tetap hitam, black skin ‘kulit hitam’ tetapi lagak mereka seperti orang kulit putih yang merendahkan harkat kaumnya sendiri, white masks ‘topeng putih’. Okonkwo, pemimpin yang awalnya berwibawa dan merasa dikhianati oleh kaumnya sendiri ini, akhirnya terpaksa memutuskan untuk bunuh diri.<br />
Memang benar dua novel tersebut hanyalah fiksi, tetapi sebagaimana fiksi pada umumnya yang menggambarkan zeitgeist ‘semangat zaman’, dua novel ini tidak bisa dilepaskan dari realitas yang sesungguhnya.<br />
Kehidupan kaum Okonkwo ada miripnya dengan Friday dalam novel Daniel Defoe, Robinson Crusoe. Begitu melihat orang kulit putih bernama Robinson Drusoe, diam-diam dalam hati Friday sudah timbul keinginan mengabdikan diri kepada Robinson Drusoe. Diam-diam pula dalam hati Robinson Crusoe sudah terbesit keinginan memperbudak Friday dengan alasan akan mendidik Friday menjadi makhluk beradab.<br />
Inilah sekedar contoh “di negara sana”. Di “negara sini” pun seorang pakar kolonialisme bernama Homi Bhabha pernah membahas sikap mental bangsa-bangsa bekas jajahan. Ada tiga butir pemikiran Homi Bhabha: mimikri, ambivalensi, dan hibriditas. Mimikri adalah sikap suka meniru bekas penjajah dahulu, seperti mengecat rambut menjadi pirang dan memutihkan kulit dengan white cleansing.<br />
Kegemaran masyarakat kita menonton sinetron dengan bintang-bintang berkulit putih tak lain adalah pencerminan rasa rendah diri masyarakat karena lebih suka mengidolakan orang kulit putih daripada masyarakatnya sendiri.<br />
Demikianlah, orang berkulit putih di Indonesia mendapat tempat terhormat dalam industri hiburan. Timbul pertanyaan, seandainya mereka dikembalikan ke negara nenek moyang mereka masing-masing, apakah mereka akan laku? Entahlah, tetapi mungkin tidak.<br />
Ambivalensi adalah ketidakjelasan “apakah ini atau itu”. Masyarakat kita tak lain adalah masyarakat kita sendiri, tetapi diam-diam dalam hati lebih suka dianggap sebagai masyarakat Barat. Masyarakat sadar bahwa dirinya adalah “ini”, tetapi dalam hati ingin menjadi “itu”.<br />
Hibriditas mirip mimikri dan ambivalensi: kehidupan masyarakat kita tidak lagi “asli”, tetapi sudah “campuran”. Dan, masyarakat lebih suka apabila yang asli tinggal sedikit untuk didominasi oleh yang bukan asli.</p>
<p>Gelombang Besar<br />
Pengalaman pilot sebagaimana yang dilihat Azrul Ananda dan pengalaman Michael Junarko hanyalah riak-riak kecil di antara sekian banyak gelombang yang lebih besar. Tengoklah, misalnya, ulah IMF mendatangkan konsultan asing ke instansi pemerintah pada 1980-an. Mereka dianggap pandai dan terhormat karena mereka bukan orang Indonesia. Seorang pembesar Depdikbud terpaksa mengaku bahwa kemampuan banyak konsultan itu setara dengan sopir bus kota di Jakarta.<br />
Ini juga terjadi di sebuah universitas di Surabaya. Konsultan asing datang mengajari dan mendidik para dosen. Ternyata konsultan ini harus diajari dan dididik oleh dosen yang seharusnya dikonsultani. Mengapa? Ya, karena kemampuan konsultan asing ini lebih kurang setara dengan kemampuan sopir bus kota.<br />
Dalam perundingan mengenai penanaman modal asing, sementara itu, kita sering berada pada pihak yang dikalahkan. Contoh yang sudah bukan rahasia antara lain bisa dilihat dari kasus pertambangan: penduduk dikorbankan, lingkungan dirusak, pembagian keuntungan tak seimbang; sementara kalau ada gejolak, pihak asing langsung atau tak langsung jadi pemenang.<br />
Dalam sebuah percakapan tak resmi, ekonom Faisal Basri menyatakan bahwa kekalahan dalam penanaman modal asing dimulai pada zaman Orde Baru, waktu kita dalam keadaan terpaksa. Memang benar, andaikata tak ditopang oleh kekuatan asing, kemungkinan besar Orde Baru tak mampu mempertahankan kekuasaan dalam waktu lama. Situasi dan kondisi pada waktu itu memaksa Indonesia dikalahkan oleh kekuatan-kekuatan asing dalam penanaman modal.<br />
Lalu, sekarang bagaimana? Mungkin juga dalam semua perundingan, sadar atau tidak, kita memang “ingin dikalahkan” dan orang asing take it for granted pasti menang, sebagaimana yang tampak pada hubungan antara Robinson Crusoe dan Friday.</p>
<p>Budi Darma<br />
Sastrawan</p>
<p>dimuat pada koran cetak Kompas, 30 Juni 2011</p>
<br />Filed under: <a href='http://geminishe.wordpress.com/category/artikel-favorit/'>artikel favorit</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geminishe.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geminishe.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geminishe.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geminishe.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geminishe.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geminishe.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geminishe.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geminishe.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geminishe.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geminishe.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geminishe.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geminishe.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geminishe.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geminishe.wordpress.com/179/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geminishe.wordpress.com&amp;blog=11049120&amp;post=179&amp;subd=geminishe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geminishe.wordpress.com/2011/07/01/martabat-bangsa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6dc414cad7323dc06f46c28bf0611e5c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">geminishe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tafsiran Islam Mana yang Mendekati Kebenaran?</title>
		<link>http://geminishe.wordpress.com/2011/07/01/tafsiran-islam-mana-yang-mendekati-kebenaran/</link>
		<comments>http://geminishe.wordpress.com/2011/07/01/tafsiran-islam-mana-yang-mendekati-kebenaran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jul 2011 05:16:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geminishe</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel favorit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geminishe.wordpress.com/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ahmad Syafii Maarif Terus terang saja, saya tidak mampu menjawab pertanyaan yang sangat krusial ini, tetapi batin saya tetap saja bergolak mencari jawabannya. Alquran dalam surat al-Baqarah ayat 201 telah menjadi doa harian umat Islam, yang artinya: &#8220;Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami hasanah (kebaikan) di dunia dan kebaikan di akhirat dan bebaskan kami [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geminishe.wordpress.com&amp;blog=11049120&amp;post=159&amp;subd=geminishe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Ahmad Syafii Maarif</p>
<p>Terus terang saja, saya tidak mampu menjawab pertanyaan yang sangat krusial ini, tetapi batin saya tetap saja bergolak mencari jawabannya. Alquran dalam surat al-Baqarah ayat 201 telah menjadi doa harian umat Islam, yang artinya: &#8220;Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami hasanah (kebaikan) di dunia dan kebaikan di akhirat dan bebaskan kami dari siksa api neraka.&#8221; Ayat lain dalam surat al-Isra&#8217; ayat 72, maknanya terbaca sebagai berikut: &#8220;Dan barang siapa buta di dunia ini, maka di akhirat dia akan buta dan tersesat jauh dari jalan yang benar.&#8221;</p>
<p>Menurut hemat saya, perkataan hasanah mengandung makna yang luas dan dalam sekali. Di dalamnya termuat kualitas kebahagiaan, kemenangan, kemerdekaan, kesehatan, bebas dari kehinaan dan kemiskinan, punya kedaulatan di negeri sendiri, dan kualitas lain yang relevan dengan semuanya itu. Pada ayat kedua, kita diberi tahu bahwa kebutaan di dunia akan bermuara pada kebutaan di akhirat, bahkan akan tersesat sangat jauh dari kebenaran. Mohon saya dikoreksi jika tafsiran saya melenceng dari jalan lurus.</p>
<p>Sekarang mari kita hadapkan substansi dan roh dua ayat itu, di samping masih banyak yang lain, kepada realitas empiris dunia Islam sekarang ini. Apakah kondisi kita sudah mendekati kehendak ayat itu bila diukur dengan parameter apa pun? Apakah kita bahagia dan menang sekarang ini? Apakah kita kaya, terhormat, merdeka, berdaulat, dan bermartabat sekarang ini? Apalagi jika dikaitkan dengan surat al-Taubah ayat 33 yang artinya: &#8220;Dialah yang telah mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk diunggulkan atas  agama lain seluruhnya sekalipun orang-orang musyrik membencinya.&#8221;</p>
<p>Secara teologis, bisa saja kita mengklaim bahwa Islam itu unggul, dan memang unggul, tetapi bagaimana umatnya? Rasanya teramat jauh jarak antara keunggulan teologis dan peta sejarah kita yang buram sejak ratusan tahun yang lalu.</p>
<p>Apa yang dapat kita banggakan sekarang? Sebagian bangsa Muslim kini sedang mengalami pergolakan dan transformasi kultural yang sangat dahsyat, tidak jarang dengan menumpahkan darah sesama Muslim. Korupsi juga merajalela di mana-mana, di bumi Muslim. Maka pertanyaan sentralnya: &#8220;Di mana Islam yang benar dan unggul itu?&#8221; Jawaban yang dapat saya berikan: di dalam teks, tetapi tidak dalam kenyataan. Maka, tugas dan kewajiban kita yang mendesak adalah mempertautkan teks dan kenyataan. Pecahnya kongsi antara teks dan kenyataan adalah karena kelalaian mendasar yang belum juga kita sadari sepenuhnya.</p>
<p>Kaum Sunni, Syiah, Khawarij, dan anak keturunannya yang berkeliaran di muka bumi masih saja berbangga dengan puaknya masing-masing, kecuali sedikit yang sadar. Bukankah puak-puak itu tidak muncul di zaman nabi, tetapi mengapa kita bersitegang dengan atribut-atribut itu? Mengapa semua atribut itu tidak dibuang saja ke dalam limbo sejarah? Kehadiran puak-puak itu berasal dari sengketa politik sesama Muslim, tetapi mengapa diberhalakan?</p>
<p>Tanpa kejujuran sejarah dalam meneropong firkah-firkah itu, akan amat sulit kita menemukan tafsiran Islam mana yang mendekati kebenaran. Mengapa kita terus saja berbangga dengan puak-puak itu, sedangkan Alquran memerintahkan kita untuk membangun persaudaraan di atas pilar iman yang tulus, bukan karena pertalian darah atau aliran politik yang sarat dengan kepentingan duniawi.</p>
<p>Saya tidak patah harap. Pukulan sejarah yang datang bertubi-tubi menimpa umat Islam, tentu pada saatnya akan meniupkan kesadaran bahwa kita telah terlalu jauh melenceng dari petunjuk dan agama yang benar. Kesadaran semacam itulah yang perlu disiarkan terus-menerus kepada sesama Muslim agar berpindah ke jalan yang lurus dan benar.</p>
<p>Bagi saya, menjadi Muslim sama maknanya menjadi manusia unggul dan menang. Unggul dan menang untuk apa? Tidak lain selain untuk menebarkan rahmat bagi alam semesta, juga sebagai pelanjut misi kenabian. (Lihat surat al-Anbiya&#8217; ayat 107). Ke dermaga inilah bola sejarah wajib kita gulirkan bersama secara jujur dan tulus. Allah hanya berpihak kepada kejujuran dan ketulusan. Dia amat berang dan murka kepada segala bentuk kecurangan dan kepalsuan! </p>
<p>http://www.maarifinstitute.org/content/view/835/150/lang,indonesian/</p>
<br />Filed under: <a href='http://geminishe.wordpress.com/category/artikel-favorit/'>artikel favorit</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geminishe.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geminishe.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geminishe.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geminishe.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geminishe.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geminishe.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geminishe.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geminishe.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geminishe.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geminishe.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geminishe.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geminishe.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geminishe.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geminishe.wordpress.com/159/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geminishe.wordpress.com&amp;blog=11049120&amp;post=159&amp;subd=geminishe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geminishe.wordpress.com/2011/07/01/tafsiran-islam-mana-yang-mendekati-kebenaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6dc414cad7323dc06f46c28bf0611e5c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">geminishe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cuilan dari &#8220;Wasiat Kiai Togog dari Menturo, Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai&#8221;, M. Ainun Nadjib</title>
		<link>http://geminishe.wordpress.com/2011/07/01/cuilan-dari-wasiat-kiai-togog-dari-menturo-anggukan-ritmis-kaki-pak-kiai-m-ainun-nadjib/</link>
		<comments>http://geminishe.wordpress.com/2011/07/01/cuilan-dari-wasiat-kiai-togog-dari-menturo-anggukan-ritmis-kaki-pak-kiai-m-ainun-nadjib/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jul 2011 05:08:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geminishe</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel favorit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geminishe.wordpress.com/?p=155</guid>
		<description><![CDATA[Tiket Surga Manusia tidak bisa masuk surga dengan tiket makan, tidur dan berdoa. Ia adalah khalifah. Ia harus bekerja. Ia harus sanggup memformulasikan dataran-dataran pekerjaan mana yang menjadi tugasnya, mana yang menjadi tugas alam, tugas binatang, serta tugas malaikat dan tugas Tuhan sendiri. Allah menugasi dirinya menciptakan rambut keritingmu, dan engkau ditugasi untuk memotongnya pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geminishe.wordpress.com&amp;blog=11049120&amp;post=155&amp;subd=geminishe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tiket Surga</p>
<p>Manusia tidak bisa masuk surga dengan tiket makan, tidur dan berdoa. Ia adalah khalifah. Ia harus bekerja. Ia harus sanggup memformulasikan dataran-dataran pekerjaan mana yang menjadi tugasnya, mana yang menjadi tugas alam, tugas binatang, serta tugas malaikat dan tugas Tuhan sendiri. Allah menugasi dirinya menciptakan rambut keritingmu, dan engkau ditugasi untuk memotongnya pada saat-saat tertentu agar burung-burung tidak menyangka kepalamu adalah sarangnya.</p>
<p>Berpikir</p>
<p>Salah satu pekerjaan terpenting manusia, yang membuatnya bisa ditandai sebagai makhluk yang bernama manusia, adalah berpikir. Tafakur itu stafnya iradah, buruhnya kemauan hati, computer drive-nya kehendak-kehendak rohani. Baik dalam hal memasak nasi, menentukan warung tempat makan, memilih gubernur, dan lain-lain, manusia diseyogyakan untuk terlebih dahulu memaksimalkan kerja berpikirnya, rasionalitasnya, intelektualitasnya, perhitungan dan petimbangan akal sehatnya.</p>
<p>Cinta</p>
<p>Cinta adalah rem, pembijak, pengarif, yang terkadang nikmat, terkadang sakit, bagi kemungkinan pembunuhan atau permusuhan yang dipotensialkan oleh ilmu pedang. Ini berlaku pada skala mana pun, di kesempatan pergaulan sehari-hari hingga di keluasan peradaban.</p>
<p>Maghdub</p>
<p>Maghdub, orang yang Allah marah kepadanya. Orang yang tahu namun tidak mau. Orang-orang yang menyerap ilmu, namun tidak mampu mener-jemahkannya menjadi realitas kehidupan. Orang-orang yang menumpuk pemahaman, namun tidak memperjuangkan dan menegakkannya karena kecil hati dan ciut nyali di hadapan kekuatan yang bukan Tuhan. Orang-orang yang membanggakan kepandaian akal, namun memanjakan kehidupan dan menghinakan kematian, sehingga hidupnya membuih dan mengambang.</p>
<p>Dhalin</p>
<p>Masih mending adhdhalin, orang-orang yang mau tapi tidak tahu. Orang yang kurang maksimal dalam ber-iqra, namun tulus hati pengabdiannya. Orang yang tak pintar, namun berani bekerja keras, penuh tekad dan mengandalkan kesembodoan. Tidak mereka capai kesempurnaan an’amta alaihim karena akal budi dan kecerdasan kurang mereka asah dan olah, namun mereka berada di antrean kedua dalam menghadapi ghadhabullah, murka Allah.</p>
<p>Jalan Pencerahan</p>
<p>Kita yang maghdub dianjurkan “Ibu Qur’an” untuk mengacu dan menghayati poros malik rahim: perjuangan otoritas dan cinta kasih sosial. Adapun kita yang dhalin disarankan untuk mempedomani lajur rab-rahman: bahwa untuk mengasuh dan menyantuni zaman, diperlukan pendalaman atau internalisasi cinta kasih, yakni cinta yang tidak buta, cinta yang kawin dengan kebenaran, melalui ilmu. Itulah jalan pencerahan.</p>
<p>Kekaguman</p>
<p>Para ilmuwan yang mendalami ilmu, berapa kali sehari ia bertemu dengan kekaguman-kekaguman yang semestinya membuat ia berucap Allahu Akbar. Para seniman tak usah menghayati puisi tingkat tinggi, para pekerja sosial tak usah meneliti keruwetan dan keajaiban proses-proses masyarakat, para wartawan tak usah mendaki gunung dan mengeruk perut bumi, para negarwan tak usah menatapi hamparan-hamparan amat luas dari keindahan zaman dan sejarah kemanusiaan, untuk tiba pada kelayakan ucapan Allahu Akbar. Mereka cukup membayangkan kerja usus di perutnya. Allahu Akbar akan terloncat dari mulutnya setiap kali.</p>
<p>Anak Sekolah</p>
<p>Kita bukanlah anak sekolah yang kurang belajar maksimal dan hanya mengandalkan doa dan sesudah terkabul lantas lupa bersyukur.</p>
<p>Syarat</p>
<p>Segala sesuatu ada syaratnya. Kita tidak bisa hanya mentamengi diri dengan mukjijat al-Qur’an apabila secara keseluruhan al-Qur’an tak kita laksanakan nilainya. Tanpa mematuhi al-Qur’an berarti al-Qur’an enggan menyatu dengan kita, atau kita tak cukup bersih untuk menyatu dengan al-Qur’an, dan dengan demikian kita juga tak bisa menghayati kesaktian ijaz-nya. Kesaktian magis puncak ayat al-Qur’an itu ibarat genteng yang melindungi seisi rumah kita dari hujan. Artinya, kita tahu bahwa genteng tak bisa kita taruh di udara. Mesti kita bangun fundamen, dinding, kayu penyangga genteng itu, serta tiang pusat.</p>
<p>Hal Pencuri</p>
<p>Kalau ada orang mencuri barang saya, saya akan cari pencuri itu sampai ketemu. Sampai ke liang naga pun akan saya kejar. Kemudian kalau ketemu, saya akan minta dia mengembalikan barang saya yang dicurinya itu. Lantas saya tanyakan padanya apakah ia sungguh-sungguh membutuhkan barang itu. Kalau dia bilang ya, saya akan langsung memberikan barang itu kepadanya. Dengan demikian, dia bukan lagi pencuri. Dia tidak berdosa dan saya tidak kehilangan. Kalau kita memberikan sesuatu kepada orang yang membutuhkannya, Allah akan menggantinya tujuh ratus kali lipat, meski dalam bentuk atau wujud yang tidak harus selalu sama persis dengan barang yang kita berikan.</p>
<p>Orang Sukses dan Orang Gagal</p>
<p>Orang sukses itu tidak identik dengan orang kaya dan orang gagal itu tidak identik dengan miskin. Menang kalahnya seseorang, atau sukses gagalnya seseorang, tidak ditentukan oleh apakah ia kaya atau miskin, melainkan oleh kekalahan atau kemenangan mental orang itu terhadap kekayaan atau kemiskinan.</p>
<p>Menang</p>
<p>Ada orang yang hidupnya kaya tapi tak punya harta benda apa-apa. Artinya, ia disebut kaya karena gagah berani memberikan kekayaannya kepada orang yang memerlukan. Ia menang dalam melakukan pertarungan melawan uang dan harta benda, sehingga ia takut membuangnya.</p>
<p>Materi</p>
<p>Manusia bukan hanya membutuhkan materi, tapi dirinya juga memuat materi, bahkan ia terdiri atas materi. Namun perjuangan manusia adalah meningkatkan derajatnya agar lebih tinggi beberapa tingkat dari hakikat materi. Ia menang karena menguasai materi, bukan dikuasai.</p>
<p>Disarikan oleh Aricha Bulan, Lumajang.</p>
<p>http://www.facebook.com/notes/aricha-bulan/cuilan-dari-wasiat-kiai-togog-dari-menturo-anggukan-ritmis-kaki-pak-kiai-m-ainun/10150181274600866</p>
<br />Filed under: <a href='http://geminishe.wordpress.com/category/artikel-favorit/'>artikel favorit</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geminishe.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geminishe.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geminishe.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geminishe.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geminishe.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geminishe.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geminishe.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geminishe.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geminishe.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geminishe.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geminishe.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geminishe.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geminishe.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geminishe.wordpress.com/155/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geminishe.wordpress.com&amp;blog=11049120&amp;post=155&amp;subd=geminishe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geminishe.wordpress.com/2011/07/01/cuilan-dari-wasiat-kiai-togog-dari-menturo-anggukan-ritmis-kaki-pak-kiai-m-ainun-nadjib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6dc414cad7323dc06f46c28bf0611e5c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">geminishe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tubuh Itu Merekam</title>
		<link>http://geminishe.wordpress.com/2011/07/01/tubuh-itu-merekam/</link>
		<comments>http://geminishe.wordpress.com/2011/07/01/tubuh-itu-merekam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jul 2011 05:03:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geminishe</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel favorit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geminishe.wordpress.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[Dalam Al-Qur’an (Yasin: 65) dinyatakan, di akhirat kelak anggota tubuh kita akan memberikan kesaksian atas apa yang diperbuatnya selama di dunia. Tangan, kaki dan anggota badan lain akan berbicara sehingga mulut tidak bisa membantah dan berbohong. Pendeknya, dalam pengadilan di akhirat kelak kita tak akan mampu membohongi diri sendiri dan malaikat, karena anggota tubuh akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geminishe.wordpress.com&amp;blog=11049120&amp;post=152&amp;subd=geminishe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam Al-Qur’an (Yasin: 65) dinyatakan, di akhirat kelak anggota tubuh kita akan memberikan kesaksian atas apa yang diperbuatnya selama di dunia. Tangan, kaki dan anggota badan lain akan berbicara sehingga mulut tidak bisa membantah dan  berbohong. Pendeknya, dalam pengadilan di akhirat kelak kita tak akan mampu membohongi diri sendiri dan malaikat, karena anggota tubuh akan menjadi saksi yang bisa memberatkan atau meringankan tergantung pada perbuatan yang pernah dilakukan di dunia. Hakim yang kita hadapi di akhirat kelak bukanlah hakim yang dapat disuap dengan uang sebagaimana yang terjadi di dunia. Tak akan ada yang mampu menolong diri kita kecuali rekaman iman dan amal kebajikan kita sendiri.</p>
<p>Apa yang disampaikan Al-Qur’an di atas  secara ilmiah sangat mudah untuk dibuktikan bahwa tubuh itu merekam apa yang biasa kita lakukan dan pikirkan. Contoh yang paling sederhana adalah rekaman pengalaman naik sepeda. Mungkin ada di antara kita sudah puluhan tahun tidak pernah naik sepeda. Tetapi karena dahulunya pernah dan biasa naik sepeda, andaikan disodori sepeda pasti bisa mengendarainya. Mengapa?  Karena tubuh kita, terutama kaki dan tangan, memiliki rekaman bagaimana mengendarai sepeda, sehingga rekaman tadi muncul lagi ketika disuruh naik sepeda. Tetapi mereka yang dahulunya tidak pernah, yang berarti tidak memiliki rekaman pengalaman, pasti perlu waktu lama dan mulai dari nol untuk belajar naik sepeda.</p>
<p>Contoh ini dapat diperbanyak lagi, misalnya apa yang direkam oleh lidah tentang rasa makanan. Tanpa diberi tahu apa namanya, begitu melihat, mencium baunya dan merasakan rasa makanan yang dahulu suka kita makan waktu kecil, sudah langsung tahu apa nama makanan itu dan bagaimana rasanya. Bahkan, andaikan makanan itu disajikan dalam keadaan gelap, kita akan bisa mengenalinya. Bagaimana bisa? Karena lidah kita memiliki rekaman akan berbagai rasa makanan.</p>
<p>Dalam sebuah penelitian kajian neurology dibuktikan bahwa sel-sel otak ternyata menyimpan berbagai informasi dan pengalaman yang terekam sejak kecil yang umumnya sudah kita lupakan. Ketika dilakukan eksperimen dengan pembedahan otak, namun yang bersangkutan tetap sadar, ketika sel-sel saraf tertentu dirangsang ternyata mampu menceritakan berbagai pengalaman sewaktu kecil. Eksperimen ini memperkuat teori bahwa semua yang pernah kita ketahui dan pikirkan terekam dalam jaringan saraf otak.   </p>
<p>Jadi, apa yang dikatakan Al-Qur’an tadi semakin diperkuat oleh eksperimen ilmiah. Teori bahwa tubuh merekam saya amati dan buktikan sendiri ketika ayah saya sendiri sakit, dirawat di rumah sakit di Magelang selama satu minggu. Saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari peristiwa ini. Betapa tidak? Bayangkan, ketika dia sembuh dan telah kembali ke rumah, saya bertanya kepadanya, “Bagaimana pengalaman Bapak ketika di rumah sakit?” dia jawab, “Saya lupa.” Sungguh ini hal yang aneh. Dia bilang sudah lupa dengan apa yang terjadi di rumah sakit.</p>
<p>Jadi, secara fisik sebenarnya dia memang sakit, tetapi secara mental dia sama sekali tidak merasa dirinya sakit. Yang sangat mengesankan saya, saat dirawat di rumah sakit, setiap kali datang waktu salat, dia selalu minta air untuk wudu atau minta diberi kesempatan untuk tayamum karena mau salat. Rupanya, tubuh dan mentalnya merekam ritme jadwal salat, sehingga setiap datang waktu salat  jam badannya (biological clock) memberi isyarat secara refleks dan otomoatis untuk bergegas untuk mendirikan salat, karena ayah saya ketika sehat selalu salat tepat waktu lima kali sehari.</p>
<p>Jadi, ketika sakit, jam badan itu bekerja seperti “weaker” yang memberi isyarat karena di dalamnya memiliki rekaman habit. Contoh lain yang  dengan mudah kita saksikan dalam peristiwa-peristiwa sehari-hari adalah pengalaman sopir bis malam lintas kota. Dulu, waktu tol Cipularang belum dibuat, sebagian besar orang menggunakan jalur Puncak untuk pergi dari Jakarta ke Bandung. Pernahkah kita membayangkan bagaimana hebatnya para sopir bus jurusan Jakarta-Bandung itu ketika melawati Ciawi, Megamendung, Cisarua, Puncak Pass, Cipanas, Cianjur dan Bandung. Sopir-sopir bus itu dengan mudahnya menyusuri jalan berkelok yang naik-turun. Mereka sangat lihai. Mereka hafal betul kapan dan dimana harus berbelok. Mereka tahu kapan dan dimana akan ada tanjakan dan tikungan, bahkan mereka tahu dimana akan ada banyak kerumunan orang di jalan.</p>
<p>Mengapa mereka bisa sehebat itu? Mengapa sopir itu bisa secara refleks mengendarai dan hafal situasi jalur Jakarta-Bandung? Jawabannya kita pasti tahu: itu karena kebiasaan. Mereka telah terbiasa setiap hari melewati rute itu, sehingga anggota tubuhnya merekam situasi dan keadaan yang dilaluinya. </p>
<p>Begitu juga orang yang dulu pernah mahir bermain ping-pong atau bermain badminton, ketika dia sudah tua, meskipun dia sudah meninggalkan kebiasaan itu selama puluhan tahun, pasti dia akan sanggup memainkan kembali. Mungkin gerakan dan tingkat kelihaiannya berbeda dengan masa mudanya, tetapi kemampuan dan teknik dasar bermainnya tentu akan terlihat. Jadi, kebiasaan masa lalu tak akan mudah terlupakan, karena tubuh ini merekam secara kuat apa yang pernah menjadi kebiasaan dan kesukaan atau hobi.</p>
<p>Cerita di atas menyimpan pesan yang sangat dalam. Bahwa hendaknya kita membiasakan berpikir, berbicara dan berbuat yang baik-baik, agar ketika sakit atau menjelang ajal nanti, rekaman kebaikan itu yang akan menemani dan mengawal kita menempuh perjalanan lebih lanjut. Coba renungkan, ada kejadian pada orang tua yang menjelang ajal, namun sangat sangat sulit untuk mengucapkan zikir seperti tahlil, tahmid dan takbir. Hal ini disebabkan karena di masa hidupnya bacaan-bacaan zikir itu sangat asing, hati dan lidahnya tidak memiliki rekaman zikir. Dia tidak mempunyai memori yang dapat membangkitkan kesadarannya untuk mengucapkan kalimah tayyibah itu menjelang ajalnya.</p>
<p>Sebaliknya, sering kali saya menyaksikan bagaimana mudahnya seseorang mengucapkan zikir atau membaca asmaul husna pada saat menjelang kematiannya. Ini dikarenakan dia telah terbiasa untuk mengucapkan kalimat itu di masa hidupnya. Dia telah membiasakan diri untuk membasahi lidahnya dengan kalimat zikir. Siang malam dia berzikir. Sebelum dan sesudah salat dia berzikir. Ketika tersandung batu dia beristigfar. Ketika mendengar petir dia bertasbih. Praktis, kalimat zikir telah menjadi bagian dari kebiasaanya sehari-hari, sehingga ketika ajal datang menjemput dia dengan mudah mengucapkan kalimat zikir untuk menutup usianya.</p>
<p>Karena itu, bagi orang yang mempunyai kebiasaan buruk yang selalu mengucapkan kata-kata kotor di masa hidupnya, bisa jadi menjelang sakaratul maut yang akan diingatnya hanya kata-kata kotor. Orang yang biasa mengejek, mengomel atau mencemooh orang lain akan tertutup hatinya untuk mengucapkan kata-kata yang baik, sebab dalam rekaman atau memori hidupnya selalu dipenuhi dengan kebiasaan buruk itu.<br />
Saya seringkali mendapatkan kisah-kisah nyata yang menceritakan hal itu.</p>
<p>Semoga kisah-kisah di atas dapat menjadi pelajaran berharga untuk menghadapi kematian sehingga kita menjumpai Izrail dengan senyum persahabatan. Mari kita membiasakan diri untuk melafalkan kata-kata yang baik, selalu berzikir dan mengingat Allah Swt., membiasakan diri mengerjakan salat, berpuasa dan bersedekah, serta berbuat baik pada sesama. Sebab semua itu akan terekam dalam memori kita sepanjang hayat, baik saat hidup di dunia, menjelang sakaratul maut, atau setelah kematian kita. </p>
<p>Husnul khatimah (penghujung yang baik) di masa kematian kita itu tidak bisa diraih dengan tiba-tiba. Ia tak bisa dipaksa dan dibimbing oleh orang lain dengan mudah, karena diri kitalah yang menentukan apakah kita sanggup mendapatkan akhir yang baik atau tidak. Husnul khatimah merupakan akumulasi dari perjalanan panjang seseorang di masa hidupnya. Rekam jejak kehidupan seseorang menentukan hasil akhir dari perjalanan hidupnya di dunia.</p>
<p>Komaruddin Hidayat<br />
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.</p>
<p>http://www.metrotvnews.com/read/analisdetail/2011/05/24/165/Tubuh-itu-Merekam</p>
<br />Filed under: <a href='http://geminishe.wordpress.com/category/artikel-favorit/'>artikel favorit</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geminishe.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geminishe.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geminishe.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geminishe.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geminishe.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geminishe.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geminishe.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geminishe.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geminishe.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geminishe.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geminishe.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geminishe.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geminishe.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geminishe.wordpress.com/152/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geminishe.wordpress.com&amp;blog=11049120&amp;post=152&amp;subd=geminishe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geminishe.wordpress.com/2011/07/01/tubuh-itu-merekam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6dc414cad7323dc06f46c28bf0611e5c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">geminishe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Catatan Kenduri Cinta Mei 2011</title>
		<link>http://geminishe.wordpress.com/2011/05/17/catatan-kenduri-cinta-mei-2011/</link>
		<comments>http://geminishe.wordpress.com/2011/05/17/catatan-kenduri-cinta-mei-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 May 2011 05:49:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geminishe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Memahami Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geminishe.wordpress.com/?p=175</guid>
		<description><![CDATA[Masing-masing dari kita adalah seorang pemimpin, di mana saja. Yang membedakan kepemimpinan Rasulullah dengan kepemimpinan umum yaitu konsep Imam dan Ra’is. Dalam Al Quran, Nabi itu imam, pemimpin (imamah), berasal dari kata umm (ibu), seorang pemimpin yang melayani, melindungi, serta mencurahkan kasih saying layaknya seorang ibu. sedangkan Presiden itu pemimpin (Ra’is), berasal dari kata Ra’sun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geminishe.wordpress.com&amp;blog=11049120&amp;post=175&amp;subd=geminishe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masing-masing dari kita adalah seorang pemimpin, di mana saja. Yang membedakan kepemimpinan Rasulullah dengan kepemimpinan umum yaitu konsep Imam dan Ra’is. Dalam Al Quran, Nabi itu imam, pemimpin (imamah), berasal dari kata umm (ibu), seorang pemimpin yang melayani, melindungi, serta mencurahkan kasih saying layaknya seorang ibu. sedangkan Presiden itu pemimpin (Ra’is), berasal dari kata Ra’sun (kepala), selalu ingin dihormati, selalu ingin dinomor-satu-kan, diistimewakan, sehingga begitu lemah.</p>
<p>Hujan mengguyur Jakarta sedari isya, deras. Panggung kecil di halaman parkir TIM telah berdiri, terpal-terpal sebagai alas duduk telah dipasang, walau kemudian tergulung lagi, becek. Genangan air di mana-mana. Waktu memasuki pukul 8 malam, acara belum juga dimulai. Pesimis itupun datang, pesimis bahwa acara Kenduri Cinta bulan Mei akan berjalan lancar seperti biasanya. Maklum, saya tidak punya pengalaman menghadiri acara ini di tengah siraman hujan yang deras, kuyup, tidak ada tenda memadai sebagai atap berteduh. Saya putuskan berteduh sejenak di warung terdekat.</p>
<p>Pukul 10 malam, Hujan perlahan bersahabat, menyisakan rintik-rintiknya yang lembut. Saya kembali ke tempat acara, sudah dimulai. Panggung yang kecil itu telah dipenuhi beberapa orang jamaah dan pembicara yang duduk berbaur, hanya menyisakan sedikit “space” kosong. Cuma di Kenduri Cinta ditemui di mana pembicara dan jamaah duduk satu panggung, tak ada pengkotak-kotakkan. Menurut kawan, acara telah dimulai sedari jam 9 tadi, diawali dengan pembacaan surah Yaasin untuk mengantarkan almarhum ayahanda dari salah seorang guru KC, Syekh Nursamad Kamba, yang telah berpulang siang tadi.</p>
<p>Tidak seperti biasa, jamaah yang hadir lebih sedikit dari biasanya, saya maklum, tak apa. Majelis ini memang tidak memposisikan diri mengikat siapapun dan apapun, bebas, tidak ada keharusan untuk datang. Silahkan hadir bagi yang berkenan hadir, melingkar. Toh masih bisa berlangsungnya acara di tengah hujan saja sudah senang. Artinya, malam ini setiap yang hadir berkenan menghirup udara cinta, Kenduri cinta, lagi, Alhamdulillah.</p>
<p>Di sedikit “space” yang kosong itu, Group musik yang menamai dirinya Anak-anak Negeri itu telah berdiri, lengkap dengan atribut musiknya, bersiap menyuguhkan pertunjukkan musik dengan gaya yang “nyeleneh”. Betapa tidak, group yang terdiri dari enam personil laki-laki itu berpakaian “tabrak sana-tabrak sini”. Sang vokalis inti yang kebetulan cowok berbadan kurus itu berbusana kebaya putih lusuh dan sarung yang diikat berantakan, lengkap dengan sanggul di belakang kepala yang kedodoran, ala ibu kita kartini. Vokalis pengiring lebih aneh lagi, sepasang anak lelaki kisaran umur 6 tahun mengenakan baju yang tak kompak. Yang satu memakai baju perempuan terusan selutut dengan kaus kaki motif robot, yang satu lagi mengenakan kaos oblong putih ukuran bapak-bapak dipadukan dengan sarung yang diikat sembarangan. Ketiganya berjejer kompak disamping pemain gitar yang berkostum agak “mendingan”, jas, kopiah hitam, dan sarung sedikit lebih rapih.  Di belakang vokalis, Penabuh gendang tak mau kalah, kostum ala baju SMP muslim perempuan terlihat “necis” di samping sang gitaris berbaju bang Pitung. Group ini menyuguhkan musik ala mereka dengan sangat jenaka. semua jamaah tertawa lepas melihat aksi mereka, terhibur.</p>
<p>Memasuki tema, “Pemimpin ‘Gress’ dan Bangsa Indonesia Baru (Qoumun Akhor)”, Agung Pambudi selaku salah satu narasumber memulai materinya. Beliau sedikit memaparkan pandangannya tentang pemimpin masa depan dengan pendekatan sejarah Nabi Nuh dan seterusnya.</p>
<p>Pukul 11 malam, Cak Nun telah hadir di panggung beserta Gus Mustofa, Guru ngaji Sabrang dari Lampung.  Terkait tema, Cak Nun menyampaikan bahwa, sepanjang sejarah Indonesia semenjak kemerdekaan sampai sekarang, tidak ada presiden Indonesia yang direlakan turun oleh rakyatnya. Semua dijatuhkan. Bung Karno dijatuhkan melalui kudeta, pak Harto dijatuhkan oleh “People Power”, Gus Dur oleh Sidang Istimewa.  SBY pun demikian, dia “dijatuhkan” oleh dirinya sendiri, suka menjatuhkan harga dirinya sendiri, martabatnya sendiri.</p>
<p>Gus Mustofa yang akrab disapa Gus Mus, memberikan paparannya dengan sangat santun. “Lepaskan semua beban dunia, supaya kita hanya mi’raz kepada Allah”, kalimat pembukanya. “Kita mestinya masih bersyukur karena ada yang mengingatkan, kalau tidak, kita akan melampaui batas”. Secara special Gus Mus diminta Cak Nun untuk memimpin doa dan salawat.  Beberapa doa yang dilantunkan antara lain, Hazbunallah wanimal wakil, Ya Allah ya Karim, Ya Rahman Ya Rahim, Ya Qowiyyu Ya Matiin yang dibacakan sebanyak 265 kali, kemudian disusul dengan Al Fatihah 99 kali.</p>
<p>Lewat tengah malam, jamaah telah bertambah, memadati acara. Semua pada posisinya senyaman mungkin. Ada yang berdiri, duduk di atas motor, dan sebagian besar duduk di alas terpal bercampur baur. Dzikir dan solawat yang telah berlangsung kurang lebih satu jam menghadirkan suasana yang intim dengan Sang Khalik. Setiap jamaah berdzikir dengan caranya sendiri, dengan kesunyiannya masing-masing.</p>
<p>Kembali ke paparan, Cak Nun membuka tausyiahnya dengan melemparkan pertanyaan, “Kalau Anakmu hilang, kamu merasa berat atau ringan?”. Ada jamaah yang menjawab berat, ada juga yang jawab ringan. Cak Nun melanjutkan, “Allah dan Rasul itu berat hatinya kepada makhluk/umatnya. Saking beratnya, Rasulullah ketika sekarat yang diucapkannya itu Ummati Ummati Ummati”. “Mudah-mudahan Allah juga merasa berat hati-Nya kepada kalian, berat untuk membiarkan kalian dalam kesusahan”. Pintanya.</p>
<p>Narasumber berikutnya hadir Cak Fuad, kakak dari Cak Nun yang juga Dosen Bahasa Arab sebuah universitas negeri ini untuk pertama kalinya hadir di Kenduri Cinta. Dalam paparannya, melanjutkan paparan Cak Nun tentang berat hatinya Allah kepada umatNya. Cak Fuad menjelaskan bahwa kata ‘azizun’ (berat) juga menjadi salah satu asma-ul husna yang berarti maha perkasa. Dalam konteks ini, ‘azizun alayhi’ berarti bahwa Rasulullah sangat berat kepada umatnya. Inilah konsep pertama dari kepemimpinan, yaitu merasa berat pada penderitaan umatnya. Maka salah satu tujuan diutusnya Rasulullah adalah untuk meringankan beban manusia. Namun fenomena yang terjadi adalah kita malah mempersulit “agama”, membebani diri kita dengan beban-beban yang seolah-olah berasal dari agama. Nabi berkata, buatlah segala sesuatu itu ringan, jangan diperberat. Konsep kedua dari kepemimpinan adalah selalu menginginkan kebaikan umatnya. Rasulullah selalu berusaha agar umatnya sejahtera.  Dalam kata-kata bil mu’minina rauufurrahiim, kata rahiim jelas bermakna sebagai maha penyayang. Dan kata Rauf merupakan sifat kasih sayang yang dimiliki seorang ibu kepada anaknya.  </p>
<p>“Masing-masing dari kita adalah seorang pemimpin, di mana saja. Yang membedakan kepemimpinan Rasulullah dengan kepemimpinan umum yaitu konsep Imam dan Ra’is. Dalam Al Quran, Nabi itu imam, pemimpin (imamah), berasal dari kata umm (ibu), seorang pemimpin yang melayani, melindungi, serta mencurahkan kasih saying layaknya seorang ibu. sedangkan Presiden itu pemimpin (Ra’is), berasal dari kata Ra’sun (kepala), selalu ingin dihormati, selalu ingin dinomor-satu-kan, diistimewakan, sehingga begitu lemah. Contoh konkritnya adalah tas dan segala keperluannya saja minta dilayani, dibawain.”</p>
<p>“Dalam surah Az-Zumar ayat 17-18 Allah menerangkan tentang orang-orang yang mendapat petunjuk dari Allah, yaitu orang-orang yang mau menyimak perkataan-perkataan dan mengikuti hal-hal yang baik. Orang-orang yang menggunakan akalnya untuk mendengarkan/menyimak (listening to), bukan hanya yang mendengar (hearing). Ada beda antara keduanya. Kalau mendengar (yasma’) hanya selesai pada mendengar, kalau mendengarkan (yastama’a) itu setelah mendengar kemudian berlanjut kepada menyimak, mencari makna tersirat dari yang tersurat, pengetahuan jadi luas, tidak sempit cara berfikirnya. Dan yang didengarkan itu Qaul, perkataan apa saja. Bukan qoulan, perkataan tertentu. Qaul itu luas maknanya, bisa berupa ayat-ayat Allah, berita-berita media masa, Tafsir-tafsir ulama, bahkan ideologi-ideologi, apa saja.”</p>
<p>“Maka kemudian kita harus terbiasa mendengarkan apa saja, dari siapa saja, tapi harus dengan sikap yang kritis. Jangan sampai kita menyembah Thoghut (apa-apa saja yang disembah selain Allah). Apa-apa saja yang bisa menjadi thoghut? Bisa  berupa benda, ideologi, bahkan manusia sholeh sekalipun. Orang-orang sholeh yang hidup dalam sejarah pada akhirnya kemungkinan bisa jadi thoghut, sesembahan. Ini terjadi kalau kita salah menyikapi.”</p>
<p>“Orang kalau sudah punya ikatan yang teramat kuat terhadap sesuatu, maka bisa kemungkinan thoghut, tidak objektif lagi, meminggirkan ilmu dan nuraninya. Maka untuk lepas bebas dari itu, syaratnya kita harus menghindarkan diri dari thoghut. Misal, orang kalau sudah mencap dirinya dengan ideology tertentu, islam liberal misalnya, dia akan apriori/menolak selain dari ideologinya itu. Begitu pula sebaliknya. Padahal pada keduanya terdapat kebenaran.”</p>
<p>Di penghujung, Cak Nun melanjutkan, “Islam itu meringankan, kalau merasa berat, berarti ada yang salah dengan keislaman kita”.</p>
<p>Guyon Cak Nun: Orang Cina mau masuk islam karena berpuluh-puluh tahun gaul sama orang arab dan melihat hidup orang arab sangat enjoy, lalu orang arab bilang: “Jangan, islam itu berat, sholat harus 5 kali, puasa sebulan full, disunat pula”. Terus orang Cina Tanya: “emang kenapa? Kok ngga boleh?. Orang arab bilang: “enak aja, udah bau umur mau masuk islam, udah seumur hidup makan babi, minum alcohol, mau khusnul khotimah, sama-sama masuk surga. Kita yang ngga pernah ngerasain makan babi, ya rugi”.</p>
<p>Di akhir acara, Cak Nun menyampaikan pesan: “jamaah Kenduri Cinta harus punya keberanian untuk berfikir fenomenal, baru, bebas, kreatif. Perkara tercapai atau tidaknya tujuan, itu bukan soal. Yang penting jalannya bener (shirathal Mustaqim), perkara gol (hasil) itu urusan Allah.” </p>
<p>juga dipublish di http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150191666631564</p>
<br />Filed under: <a href='http://geminishe.wordpress.com/category/memahami-islam/'>Memahami Islam</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geminishe.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geminishe.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geminishe.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geminishe.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geminishe.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geminishe.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geminishe.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geminishe.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geminishe.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geminishe.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geminishe.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geminishe.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geminishe.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geminishe.wordpress.com/175/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geminishe.wordpress.com&amp;blog=11049120&amp;post=175&amp;subd=geminishe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geminishe.wordpress.com/2011/05/17/catatan-kenduri-cinta-mei-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6dc414cad7323dc06f46c28bf0611e5c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">geminishe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Monolog Berjudul Self Pity</title>
		<link>http://geminishe.wordpress.com/2011/01/25/monolog-berjudul-self-pity/</link>
		<comments>http://geminishe.wordpress.com/2011/01/25/monolog-berjudul-self-pity/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Jan 2011 02:03:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geminishe</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel favorit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geminishe.wordpress.com/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[oleh: Reza Indragiri Amriel, DOSEN PSIKOLOGI KEPRIBADIAN UNIVERSITAS BINA NUSANTARA, JAKARTA Semua orang bisa capek, bisa sakit, bisa stres. Batman saja, biarpun sakti mandraguna saat malam ge lap tiba, tetap menyembunyikan kelemahan psikisnya yang asli-selaku Bruce Wayne&#8211;di balik jubah hitamnya. Begitu pula Superman; kendati digdaya, dalam urusan cinta, Clark Kent alias Superman bisa putus asa. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geminishe.wordpress.com&amp;blog=11049120&amp;post=149&amp;subd=geminishe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh: Reza Indragiri Amriel, DOSEN PSIKOLOGI KEPRIBADIAN UNIVERSITAS BINA<br />
NUSANTARA, JAKARTA</p>
<p>Semua orang bisa capek, bisa sakit, bisa stres. Batman saja, biarpun<br />
sakti mandraguna saat malam ge lap tiba, tetap menyembunyikan<br />
kelemahan psikisnya yang asli-selaku Bruce Wayne&#8211;di balik jubah<br />
hitamnya. Begitu pula Superman; kendati digdaya, dalam urusan cinta,<br />
Clark Kent alias Superman bisa putus asa.</p>
<p>Jadi bukan pada stres sesungguhnya masalah berada. Persoalan yang<br />
sebenarnya terletak pada pengelolaan stres para pengidap stres. Karena<br />
tiap individu dihadapkan pada keharusan menerapkan manajemen stres<br />
terbaik yang ia punya, di sinilah parameter keberhasilan adaptasi yang<br />
bisa individu lakukan. Semakin matang psikologi individu, logikanya,<br />
semakin baik pula kemampuan adaptasinya berkat andalnya strategi<br />
pengelolaan stres yang ia pakai.</p>
<p>Dengan kerangka berpikir semacam itulah sosok Presiden Susilo Bambang<br />
Yudhoyono dapat dipahami, khususnya berkenaan dengan pernyataannya<br />
perihal gajinya yang tak kunjung naik sejak bertahun silam. Ungkapan<br />
hati SBY adalah sebuah katarsis. Katarsis merupakan cara SBY<br />
mengeluarkan semua sampah dari batinnya. Katarsis menjadi sesuatu yang<br />
masuk akal, mengingat sorotan, apalagi kecaman, publik berhamburan ke<br />
arah SBY semakin deras belakangan ini.</p>
<p>Salah satu yang monumental adalah sebutan bahwa Presiden SBY adalah<br />
&#8220;pembohong&#8221;, seperti dinyatakan oleh para tokoh lintas agama beberapa<br />
hari lalu. Sebagai individu yang selama ini dikenal sangat menjaga<br />
citra diri, segala bentuk kritik yang mengarah kepada diri SBY<br />
pribadi&#8211;bukan ke pemerintah yang dipimpinnya&#8211;memang menggesek sisi<br />
paling sensitif pada diri SBY. Jadi &#8220;wajar&#8221;apabila julukan<br />
&#8220;pembohong&#8221;pun mengundang tanggapan langsung, bahkan reaksi, dari SBY.</p>
<p>Dibekap oleh stres yang menghebat, akhirnya SBY tak kuasa lagi menahan<br />
itu semua. Ia butuh mencurahkan isi hatinya.<br />
Tidak sebatas katarsis, lewat &#8220;curhat&#8221;SBY, masyarakat akan dapat<br />
menyaksikan sisi hidup yang amat manusiawi dari SBY.<br />
SBY memang orang nomor satu di Republik, walau tidak berarti dia imun<br />
total dari stres. Dengan penonjolan dimensi insani sedemikian rupa,<br />
masyarakat pun diharapkan akan jatuh simpati.</p>
<p>Secara tidak langsung, dari kacamata profesionalitas, SBY menunjukkan<br />
ketangguhan sekaligus loyalitasnya. SBY rela tak naik gaji sekian<br />
lama, meskipun beban kerja tentunya semakin luar biasa. Padahal,<br />
antara lain menurut Leigh Branham (2004) dalam buku The 7 Hidden<br />
Reasons Employees Leave: How to Recognize the Subtle Signs and Act<br />
Before It&#8217;s Too Late, gaji yang jalan di tempat adalah alasan di balik<br />
keluarnya karyawan dari sebuah perusahaan dan pindah ke perusahaan<br />
lain.<br />
Menurut Branham, karyawan menganggap bahwa gaji yang tidak kunjung<br />
naik, sehingga tidak lagi kompetitif dibandingkan dengan posisi lain,<br />
merupakan cerminan rendahnya penghargaan perusahaan terhadap karyawan.<br />
Sampai di sini, adegan SBY menjeritkan isi hatinya (tepatnya: isi<br />
kantongnya), adalah sesuatu yang sangat-sangat lumrah.<br />
Keindonesiaan Persoalannya, bicara tentang SBY tidak mungkin sebatas<br />
menggunjingkan kepribadian SBY sebagai pribadi. Setiap wacana mengenai<br />
SBY pasti serta-merta terbingkai dalam konteks keindonesiaan. Demikian<br />
pula, apa boleh buat, bahasan ten tang keluhan gaji SBY niscaya akan<br />
khalayak tilik dari sudut kedudukan SBY sebagai Presiden RI.</p>
<p>Dalam konteks itulah, sesuatu yang pada dasarnya manusiawi justru<br />
ditafsirkan sebagai cerminan tipisnya kepekaan diri.<br />
Apa pun motif SBY, masyarakat tetap menilai betapa teganya sang<br />
presiden &#8220;mengeluhkan&#8221;gajinya yang masih segitu-segitu saja. Faktanya,<br />
besaran gaji SBY yang tetap selama tujuh tahun tidak akan membuatnya<br />
jatuh miskin. Sebaliknya, ada jutaan manusia Indonesia yang, walaupun<br />
mengalami kenaikan gaji, tetap saja tidak akan mengingsutkan mereka<br />
jauh-jauh dari tebing kemelaratan. Apalagi, jika besaran gaji<br />
diberlakukan berbasis kinerja, memang sudah sepantasnya SBY tidak<br />
menerima kenaikan gaji, karena kondisi morat-marit Indonesia yang<br />
dipimpinnya adalah bukti buruknya kinerja SBY! Alhasil, meski stres<br />
dan &#8220;curhat&#8221;adalah manusiawi, jabatannya selaku presiden menuntut SBY<br />
lebih mengedepankan empati terhadap dua ratusan juta rakyat Indonesia.<br />
Celakanya, keluhan perihal gaji gagal mengundang perasaan belas<br />
kasihan, malah mempertontonkan derajat empati SBY yang memprihatinkan.<br />
Atas dasar itu, dapat dinyatakan bahwa &#8220;curhat&#8221; SBY bukan merupakan<br />
manajemen stres yang efektif, melainkan justru berakibat<br />
kontraproduktif.<br />
Lalu bagaimana?<br />
Andai kita berani berasumsi bahwa Presiden SBY sudah banting tulang<br />
merenovasi tanah air ini, kepayahan psikis yang SBY alami hari-hari<br />
ini disebut sebagai compassion fatigue alias keletihan yang berasal<br />
dari ekspresi kepedulian dan kasih sayang tanpa henti kepada<br />
masyarakat.</p>
<p>Terhadap klien yang didera compassion fatigue, psikolog bisa saja<br />
merekomendasikan satu resep: ambil rehat. Dalam konteks kerja,<br />
beristirahat dapat dilakukan lewat cuti. Sebagai perbandingan,<br />
sejumlah Perdana Menteri Inggris (Tony Blair dan Gordon Brown) serta<br />
Presiden Amerika Serikat (Ronald Reagan dan George Bush) menyempatkan<br />
diri berlibur di sela-sela kesibukan mereka menjalankan tugas kepala<br />
negara/pemerintah. Sepanjang tidak sedang terjadi bencana alam atau<br />
krisis hebat lainnya, masyarakat di kedua negara tersebut umumnya<br />
dapat memahami kebutuhan pemimpin mereka untuk jeda dari tugas.</p>
<p>Kendalanya, siapa pula orang di negeri ini yang akan mengabulkan<br />
seandainya SBY mengajukan permohonan cuti? Siapa yang ridho menonton<br />
SBY senang-senang di Walt Disney atau bahkan sebatas leyehleyeh di<br />
Pantai Senggigi? Tidak ada.</p>
<p>Karena cuti tidak mungkin, mengajukan surat pengunduran diri<br />
barangkali merupakan solusi. Mengakui adanya problem psikologis memang<br />
acap dianggap lebih memalukan ketimbang problem fisik. Dibutuhkan<br />
kebesaran hati untuk pamit lebih cepat, yang didahului dengan secara<br />
jujur mengakui rasa stres tak tertahankan selama berada di tampuk<br />
kekuasaan. Dengan mengundurkan diri, bukan hanya diri si kepala negara<br />
yang terlindungi dari bertambah buruknya compassion fatigue, nasib<br />
jutaan rakyat juga akan terselamatkan dari kerusakan lebih parah lagi<br />
akibat kesalahan-kesalahan pemimpin nasional dalam membuat kebijakan.</p>
<p>Namun, sebagai prajurit, mana mungkin SBY balik badan di tengah jalan.<br />
Kalau begitu, ya sudah, diam&#8211;hentikan keluhkesah! Stop memelas!<br />
Rakyat tidak sedang in the mood untuk membeli karcis monolog bertajuk<br />
Self Pity.</p>
<p>http://epaper.korantempo.com/KT/KT/2011/01/25/ArticleHtmls/25_01_2011_012_003.shtml?Mode=1</p>
<br />Filed under: <a href='http://geminishe.wordpress.com/category/artikel-favorit/'>artikel favorit</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geminishe.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geminishe.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geminishe.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geminishe.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geminishe.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geminishe.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geminishe.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geminishe.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geminishe.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geminishe.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geminishe.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geminishe.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geminishe.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geminishe.wordpress.com/149/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geminishe.wordpress.com&amp;blog=11049120&amp;post=149&amp;subd=geminishe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geminishe.wordpress.com/2011/01/25/monolog-berjudul-self-pity/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6dc414cad7323dc06f46c28bf0611e5c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">geminishe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apa Sudah Lebih Baik? (Mulutku Hatiku)</title>
		<link>http://geminishe.wordpress.com/2011/01/24/apa-sudah-lebih-baik-mulutku-hatiku/</link>
		<comments>http://geminishe.wordpress.com/2011/01/24/apa-sudah-lebih-baik-mulutku-hatiku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Jan 2011 05:32:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geminishe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegundahan Hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geminishe.wordpress.com/?p=162</guid>
		<description><![CDATA[Berguru sama beliau memang begitu luar biasa, tak terbantahkan. Begitu banyak ilmu dan pengetahuan yang masuk, walaupun kadang-kadang keluar lagi karena tergeser oleh berbagai masalah yang datang. Tapi paling tidak, ada satu dua petuah yang dipegang erat. Cara dia melihat persoalan yang saya saluti, di luar main stream. ditambah lagi cara dia menyampaikan, mengena. metafora-metafora [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geminishe.wordpress.com&amp;blog=11049120&amp;post=162&amp;subd=geminishe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berguru sama beliau memang begitu luar biasa, tak terbantahkan. Begitu banyak ilmu dan pengetahuan yang masuk, walaupun kadang-kadang keluar lagi karena tergeser oleh berbagai masalah yang datang. Tapi paling tidak, ada satu dua petuah yang dipegang erat. Cara dia melihat persoalan yang saya saluti, di luar main stream. ditambah lagi cara dia menyampaikan, mengena. metafora-metafora dan umpatan-umpatan yang dia gunakan berhasil memperjelas maksud. Banyak hal yang dia bahas, semua lini kehidupan. Dari situ saya melihat, dunia ini terlalu luas untuk diberi  sekat-sekat, batasan-batasan, ini ilmiah, ini klenik, ini agama, ini politik, ini kesenian, ini bahasa, ini ekonomi.</p>
<p>Pertanyaannya satu, ke dalam diri pula, sudahkah saya menjadi diri yang lebih baik karena menerima ilmu pengetahuan dari beliau itu? setelah setahun ini?</p>
<p>Dari pertanyaan itu, saya kemudian mengurai, apa ukurannya? apa indikasi kalau saya telah menjadi pribadi yang lebih baik?</p>
<p>pertanyaan ini susah-susah gampang dalam menjawabnya. banyak ukuran yang bisa digunakan. Misal, saya putuskan ukurannya kebaikan, apa kebaikan saya? lalu berlanjut, kebaikan saya menghasilkan manfaat tidak? manfaat untuk diri sendiri dan orang sekitar? satu pertanyaan akan menghasilkan beberapa jawaban dan akan memancing pertanyaan lain, terus menerus..</p>
<p>sebenarnya paling sederhana, tentu yang paling saya ingat, petuah beliau tentang indikasi seorang mukmin. begini bunyinya:</p>
<p>&#8220;Seorang mukmin adalah seseorang yang keberadaannya (dimanapun dan kapanpun) tidak mengancam Nyawa, Martabat, dan Harta orang lain.&#8221;</p>
<p>Kalau boleh diurai, petuah sesingkat ini melingkupi banyak bidang kehidupan. coba dicari tahu, merasa amankah orang-orang disekitar saya karena keberadaan saya? tidak terancamkah mereka karena saya? tidak takut dibunuh? tidak takut dicuri, dirampok? dikorupsi? ditipu? lebih-lebih, tidak takutkah mereka difitnah saya? menjadi buah bibir saya?</p>
<p>Nah, di  era social network ini, di era kemudahan berkomunikasi, bisa jadi, pertanyaan paling terakhir itu yang paling mungkin membuat saya, kamu, atau mungkin kita semua menjadi batal sebagai prasarat menjadi mukmin yang baik.</p>
<p>Kalau petuah ini jadi alat ukur, rasa-rasanya saya masih jauh dari menjadi seorang mukmin yang baik, MULUT saya masih belum belajar banyak rupanya.</p>
<p>Mulutku cermin Hatikukah?</p>
<p>PS: Beliau Guru, Cak Nun.</p>
<br />Filed under: <a href='http://geminishe.wordpress.com/category/kegundahan-hati/'>Kegundahan Hati</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geminishe.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geminishe.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geminishe.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geminishe.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geminishe.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geminishe.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geminishe.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geminishe.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geminishe.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geminishe.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geminishe.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geminishe.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geminishe.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geminishe.wordpress.com/162/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geminishe.wordpress.com&amp;blog=11049120&amp;post=162&amp;subd=geminishe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geminishe.wordpress.com/2011/01/24/apa-sudah-lebih-baik-mulutku-hatiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6dc414cad7323dc06f46c28bf0611e5c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">geminishe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Reportase : Pentas Monoplay “Negaraku Sedang Demam”. 13 Januari 2011</title>
		<link>http://geminishe.wordpress.com/2011/01/20/reportase-pentas-monoplay-%e2%80%9cnegaraku-sedang-demam%e2%80%9d-13-januari-2011/</link>
		<comments>http://geminishe.wordpress.com/2011/01/20/reportase-pentas-monoplay-%e2%80%9cnegaraku-sedang-demam%e2%80%9d-13-januari-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Jan 2011 05:43:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geminishe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Memahami Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geminishe.wordpress.com/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[Tubuhnya tua, setengah abad umurnya, namun raut muka tampak sebaliknya, kuat. Kumisnya lebat, terlihat Garang. Pada beberapa adegan dia berteriak lantang, mengejek, tertawa terpingkal-pingkal, sesekali menangis. Berontak, sekaligus pasrah. Begitulah peran Warga dalam lakon monoplay “Negaraku Sedang Demam” yang dipentaskan kamis malam, 13 Januari 2011, di Bentara Budaya Jakarta. Warga diperankan sangat apik oleh Joko [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geminishe.wordpress.com&amp;blog=11049120&amp;post=173&amp;subd=geminishe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tubuhnya tua, setengah abad umurnya, namun raut muka tampak sebaliknya, kuat. Kumisnya lebat, terlihat Garang. Pada beberapa adegan dia berteriak lantang, mengejek, tertawa terpingkal-pingkal, sesekali menangis. Berontak, sekaligus pasrah. Begitulah peran Warga dalam lakon monoplay “Negaraku Sedang Demam” yang dipentaskan kamis malam, 13 Januari 2011, di Bentara Budaya Jakarta. Warga diperankan sangat apik oleh Joko Kamto, salah satu personil musik gamelan Kiai Kanjeng asuhan Emha Ainun Nadjib yang juga aktif dalam seni peran teater. Selain tokoh Warga, beberapa tokoh lain seperti Darsi (Olivia Zalianty), ruh Sutan Sjarir (Fajar Suharno), ruh Bung Karno (Novi Budianto), dan Demonstran Profesional (Eko Winardi) juga tampil menyajikan cerita masing-masing secara monolog, namun mereka saling terkait dalam satu kesatuan cerita. itulah kemudian disebut sebagai monoplay. Setiap peran beradegan sendiri-sendiri, bergantian, tidak bersinggungan satu dengan lainnya, namun setiap peran dan adegan diikat kuat oleh tema dan alur cerita.</p>
<p>Ruangan pementasan telah terisi penuh, separuh duduk lesehan di depan panggung, separuh lagi duduk manis di kursi bagian belakang. Terlihat beberapa tokoh film yang telah malang melintang di dunia teater telah hadir, sebut saja Slamet Raharjo, Ine Febrianti, dan masih banyak lagi. Juga tak mau ketinggalan, hadir pula beberapa anak kecil (tingkat SD, SMP, dan SMA) ikut bersiap menikmati suguhan acara.</p>
<p>Sengaja tidak membaca terlebih dahulu sinopsis cerita yang dibagikan di awal acara, saya ingin menyaksikan teater monoplay ini dengan tanpa ekpektasi, tanpa penasaran, mengalir menikmati suguhan apa adanya. Ini adalah kali pertama saya menonton seni teater. Kadung menyukai setiap hal yang berhubungan dengan kesusastraan, film, musik, memasuki menit ke-15 saya langsung jatuh hati pada seni pertunjukan ini. Betapa tidak, kekuatan ide cerita sudah dirasakan dari awal pertunjukkan. Digarap sangat apik dengan naskah yang cerdas dan menohok karya Indra Tranggono, pun ditunjang dengan akting memukau para pemainnya. Tema monoplay ini mengangkat tentang hubungan Negara dan rakyat dari sudut pandang mantan narapidana yang juga aktivis orde baru, Isti Nugroho, yang juga menyutradarai pementasan ini.</p>
<p>Cerita “Negaraku Sedang Demam” mengambil seting di sebuah museum sejarah, yaitu Museum Perjuangan. Sebuah metafora untuk menggambarkan situasi Negara kita saat ini. Sebuah museum di tengah kota yang menyimpan banyak patung para pahlawan Indonesia, mulai dari Mahapatih Gajah Mada sampai Bung Karno. Museum ini  dijaga oleh seorang mantan narapidana bernama Warga. Warga dikisahkan sebagai mantan aktivis di era Orde Baru yang dipenjara selama delapan tahun dengan tuduhan subversif kiri. Tuduhan yang dirasa sangat mengada-ada pada zaman itu, dimana segala sesuatu yang ber”aroma” kiri harus ditangkap, tidak sejalan dengan arah tujuan bangsa, alasannya.</p>
<p>Bagaimana cerita ini bergulir? kisah dimulai dengan adegan di mana Warga, sang tokoh utama beradegan secara monolog menceritakan tentang asal muasal pillihannya menjadi penjaga Museum Perjuangan daripada harus tunduk oleh kekuasaan dan uang.</p>
<p>“Biarkan saya jadi diri sendiri, tidak mau menjadi boneka siapapun. Selalu berkata tidak, untuk sesuatu hal yang memang harus ditolak. Itulah cara saya untuk bertahan sebagai manusia yang merdeka, manusia yang tetap menjaga nilai-nilai layak dan patut untuk mencapai kesejahteraan yang sejati”.</p>
<p>Secara jenaka Warga pun menceritakan pula bagaimana situasi museum ini belakangan, dimana ratusan ribu masyarakat dari pelosok negeri berziarah ke tempat ini untuk memohon sesuatu, memohon pemenuhan hak-hak mereka yang tidak dipenuhi oleh Negara. Negara absen, sedang demam. Peziarah itu dari kalangan beragam, mulai dari petani, buruh, sampai dengan tersangka koruptor. Dicontohkan, ada seorang peziarah yang memohon agar lolos dari pemeriksaan KPK. Namun kemudian diberi syarat, harus berjalan telanjang dari Aceh sampai Papua sambil berjoget-joget. Kontan penonton tertawa-tawa melihat adegan yang diperankan apik oleh Joko Kamto ini.</p>
<p>Cerita berlanjut pada adegan monolog dimana Warga mendapat telepon keluhan dari seorang peziarah yang mengadukan bahwa WC di rumahnya mampet. Dengan sindiran menohok, Warga menjawab “Mengatasi WC mampet saja masa tidak bisa? Bagaimana mau perubahan? Apa perlu dibuatkan satuan tugas (satgas) penanggulangan WC mampet?”.</p>
<p>Sindiran berlanjut pada bidang pendidikan, dimana merupakan kewajiban Negara untuk menjamin pendidikan bangsa. “Itupun kalau Negaranya tidak sedang tidur!”.</p>
<p>Musik garapan Toto Raharjo mengalun syahdu, penuh kegetiran, mengiringi adegan dimana Warga membaca surat dari pacarnya terkasih yang meninggalkannya saat dia bebas dari penjara. “Ketika berhubungan dengan masa depan, pacarku mendadak menjadi manusia konvensional, mana militansinya?”, lirih Warga, perih.</p>
<p>Pada adegan berikutnya, seting berganti sebuah kafe, tempat dimana Dastri sedang diwawancara oleh wartawan senior, untuk keperluan rubrik sosok  seorang anggota parlemen. “Tulis kalau saya itu punya komitmen, integritas, dan kapabilitas yang oke. Mengenai kecerdasan saya, tolong tulis bahwa saya sudah suka membaca tentang hal-hal besar dari sejak SMP, seperti buku “Tumbangnya Sang Diktator”. Jangan lupa, tulis kalau itu buku bahasa inggris. Oh iya, kamu kan wartawan senior, pintar-pintarlah menyanjung dan membesarkan saya di rubrik itu”, pesan Dastri tanpa malu-malu.</p>
<p>Lalu, bagaimana kisah seorang Warga bertautan dengan kisah Dastri? Dikisahkan bahwa Dastri merupakan sahabat sesame aktivis yang sekaligus nyaris jadi pacar Warga di waktu silam. Karena kepentingannya yang ditawari menjabat sebagai ketua fraksi di “Wakil Rakyat”, Dastri menghubungi Warga untuk dijadikan sebagai konsultan politik pribadinya. Namun apa yang terjadi, Warga menolak. Di mata Warga, Dastri tak lebih dari sekumpulan Srigala pemangsa. Di mata Darsi? Warga layaknya gembel miskin yang patut dikasihani.</p>
<p>Darsi berkilah:</p>
<p>Srigala-srigala berkeliaran</p>
<p>Saling memangsa di kegelapan</p>
<p>Kini, Cuma ada satu pilihan</p>
<p>Kita memangsa, atau dimangsa.</p>
<p>Selanjutnya, dikisahkan ruh-ruh para pahlawan hadir di museum. Mereka berorasi, bergantian. Hadir Bung Karno (Novi Budianto), juga Bung Syahrir (Fajar Suharno) membacakan puisi.</p>
<p>Kelelawar menyambar senja</p>
<p>Bertanya hari</p>
<p>Berganti malam</p>
<p>Samar-samar aku tatap indonesia</p>
<p>Aku jadi galau, perih, terpukau.</p>
<p>Usia panjang kemerdekaan</p>
<p>Ternyata bukan tabungan kemuliaan</p>
<p>Tapi hanya jadi tanda</p>
<p>Kita tidak kunjung matang</p>
<p>Kita tidak kunjung dewasa</p>
<p>Bangsa ini tetap saja gamang</p>
<p>Padahal kemerdekaan ini bukan hadiah, bukan pula transaksi harga</p>
<p>Kita memilih merdeka, karena kita berani mengepakkan sayap, terbang ke cakrawala</p>
<p>Namun kini, kemerdekaan justru terasa menjadi kutukan</p>
<p>Karena bangsa ini mengira</p>
<p>Merdeka hanya cukup dicapai dengan revolusi semata</p>
<p>Padahal revolusi hanya bisa jadi mug sejarah</p>
<p>Yang bisa berkarat dan rapuh</p>
<p>Tanpa jiwa-jiwa yang revolusioner</p>
<p>Jiwa kita mencair, menjadi lendir</p>
<p>Karena yang kita buru, hanyalah hal cair dan anyir</p>
<p>Semua telah membadai, semua telah tergadai</p>
<p>Cita-cita yang dulu, hilang, terburai</p>
<p>Di atas tumpukan bangsa</p>
<p>Harapan menjelma belatung</p>
<p>Dan rasa sesal menjadi buah kesangsian yang</p>
<p>Atas semua hal yang kekal,</p>
<p>Yang semestinya bisa kita genggam</p>
<p>Klimaks dari cerita ini, Museum Perjuangan diserang oleh para demonstran dengan tuduhan bahwa museum ini telah menjadi pusat kasak kusuk dan provokasi, semua menjadi kisruh tidak karuan. Museum telah menjadi pusat perklenikan secara nasional, dan itu adalah musyrik secara politik. Mereka menamakan diri mereka sebagai “Demonstran Profesional”, karena memenuhi order si “Bos Besar”.</p>
<p>“Tidak perlu minder dan rendah diri menjalani profesi sebagai Demonstran Profesional. Karena Demonstrasi merupakan komoditas yang menuntut kemampuan, keterampilan, dan kompetensi keilmuan. Lagi pula, percuma mempertahankan yang sakral di Negara yang politiknya serba kotor ini. Hal yang sakral harus diubah menjadi program dan komersial. Dan demi order dari bos besar, yang telah memberi jaminan kepada kita hidup enak, Jamsostek (jaminan sosial tetek bengek), dan Japisus (jaminan pijat khusus)”, ujar mereka.</p>
<p>Cerita ditutup dengan adegan Warga menangisi Museum Perjuangan yang telah porak poranda oleh ulah Demonstran profesional itu. “Kenapa dihancurkan? Padahal para penziarah itu hanya ingin bertemu dengan pahlawannya. Apakah penziarah itu harus menemui wakilnya yang di DPR sana? Nyatanya mereka sibuk dengan perut mereka sendiri. Pemerintah? Sama saja, Pemerintah menghabiskan waktunya dengan bersolek. Persoalan gincu dan bedak menjadi lebih penting dari pada pemenuhan-pemenuhan hak-hak warga Negara. Kamu ngumpet di mana ketika hak-hak rakyat tidak terpenuhi?”.</p>
<p>“Saya hanya ingin menjadi manusia yang mampu membedakan mana yang layak dan tidak layak, patut dan tidak patut sesuai hati nurani. Tak ada ibu yang berharap anaknya besar menjadi srigala”.</p>
<p>“Ternyata cinta jadi terasa sangat mahal bagi siapa saja yang kikir. Ternyata cinta jadi terasa sangat membebani dan menyiksa bagi siapa saja yang terpenjara dalam kuasa dan citra”.</p>
<p>“Kalian menyangka kuasa dan citra adalah pencapaian sempurna atas kehormatan dan martabat? TIDAK. kuasa dan citra tak lebih dari gelembung-gelembung sabun yang hampa dan rapuh”.</p>
<p>“Kalian telah gagal membedakan antara popularitas dan martabat. Martabat itulah yang kini lenyap, hingga kalian kehilangan ukuran dan batasan-batasan. Perubahan yang dulu kita perjuangkan, ternyata hanya menghasilkan telor busuk peradaban, karena kita gagal mengawal, dan luput membaca daur ulang sejarah. sejarah telah dikendalikan uang”.</p>
<p>Apa pesan yang ingin disampaikan oleh pementasan monoplay ini? Rasa-rasanya ini adalah tentang kegalauan hati rakyat, tentang optimisme di tengah rasa pesimis yang berkepanjangan atas Negara yang absen, sedang demam. </p>
<p>Red/Ega Julaeha</p>
<br />Filed under: <a href='http://geminishe.wordpress.com/category/memahami-hidup/'>Memahami Hidup</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geminishe.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geminishe.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geminishe.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geminishe.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geminishe.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geminishe.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geminishe.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geminishe.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geminishe.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geminishe.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geminishe.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geminishe.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geminishe.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geminishe.wordpress.com/173/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geminishe.wordpress.com&amp;blog=11049120&amp;post=173&amp;subd=geminishe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geminishe.wordpress.com/2011/01/20/reportase-pentas-monoplay-%e2%80%9cnegaraku-sedang-demam%e2%80%9d-13-januari-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6dc414cad7323dc06f46c28bf0611e5c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">geminishe</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
