“Sari, bilang sama Se Jun bahwa kita harus menyadari dan menerima kekurangan kita dengan lapang dada, supaya olok-olok orang lain atas kekurangan kita tidak kita sikapi dengan salah sehingga kita tidak dihantui oleh itu semua sepanjang hidup kita”.
Begitulah kira-kira dialog yang “mengena” yang disampaikan oleh tokoh Mayang dalam film Minggu Pagi di Victoria Park yang diputar tadi malam, 8 Juni 2010 dalam premierenya di Plaza Indonesia. Kekurangan kita sebagai manusia kalo disikapi dengan salah, itu akan menguasai pikiran kita dan membawa kita kepada pemahaman yang salah pula. Kita secara tidak sadar “mengamini” cap/perlakuan negatif orang lain atas kekurangan kita. Film berdurasi kurang lebih 2 jam ini mengisahkan tentang kehidupan para tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia di Hongkong dengan fokus cerita pada kehidupan TKW bernama Mayang dan Sekar. Mayang dan Sekar adalah kakak beradik asal Jawa timur yang digambarkan tidak harmonis hubungannya dalam keluarga. Perlakuan Ayah mereka yang meng”anak emas” kan Sekar (selaku adik) ternyata menghantui Mayang (selaku kakak) sehingga membentuk karakter Mayang yang minder, dingin, dan selalu merasa di”nomor dua”kan.
Secara emosional, film yang akan diputar serempak di 21 dan Blitzmegaplex seluruh Indonesia tanggal 10 Juni 2010 ini mampu menghadirkan geraian air mata para penontonnya. Betapa tidak, adegan demi adegan yang dibawakan secara apik oleh para pemainnya, ditambah dialog cerdas yang “menyentil” garapan Titien Wattimena mampu membawa penonton untuk sementara “hijrah” ke Hongkong menelusuri kehidupan para TKW di sana. Bagaimana kisah seorang Mayang selaku tokoh sentral bergelut di antara rasa benci sekaligus sayang kepada adik kandungnya sendiri, Sekar. Kisah percintaan dan pola hubungan pertemanan di antara sesama TKW di Hongkong ini juga menjadi sajian yang tidak kalah menarik untuk dijelajahi. Film inipun menjadi lebih “hidup” dengan dialog khas Jawa Timuran, dan itu terdengar berseliweran di setiap minggu pagi di Victoria Park, Hongkong.
Film “bergizi” garapan Lola Amaria ini seperti oase di tengah gurun pasir perfilman Indonesia dewasa ini. Film yang penuh dengan informasi terkait kehidupan TKW ini mengajak kita ke dalam perenungan mendalam tentang bagaimana menghargai dan menghormati profesi “babu luar negeri” yang selama ini kita pandang sebelah mata. Boleh saja pemerintah menjulukinya Pahlawan Devisa, tapi tanpa perlindungan yang nyata terhadap mereka, julukan itu hanya akan tamat di tempat sampah. Julukan itu ternyata tidak cukup mengangkat mereka ke “level” yang setara dengan profesi-profesi lain di mata manusia seluruh dunia, khususnya Indonesia sendiri. Mengutip Sabrang (Noe Letto) selaku produser dalam pembukaan sesaat sebelum film ini di putar:”Dengan menonton film ini, saya berharap semoga semua mendoakan agar para TKW dijaga rezekinya, manfaatnya, dan martabatnya“.
Anda penasaran dan ingin ikut merasakan “gizi” yang dimaksud? tentu anda tahu harus kemana untuk mendapatkannya.***ega***

yoyo, markotop….!!
ini blognya ega ya?
bukan, tapi Geminishe’s Blog, namanya!